SELAMAT DATANG DIPORTAL INFORMASI TPP KABUPATEN GIANYAR

Jumat, 09 September 2022

INSPIRASI KETAHANAN PANGAN DAN HEWANI DESA TARO

 

Keadaan Dunia saat ini memaksa kita untuk bertahan dari Pandemi Covid-19. Segala lini kehidupan masyarakat merasakan dampak yang sangat besar. Lumpuh dan tidak berdaya adalah kata yang bisa mewakili keadaan kita di di Bali khususnya. Pariwisata adalah salah satu sektor yang merupakan andalan Provinsi Bali dalam kehidupan masyarakatnya. Kita ketahui seluruh Pelaku pariwisata terkena dampak dan tidak berdaya. Pertanian menjadi salah satu kegiatan yang dilirik semasa pandemi ini. Pemerintah dengan gerak cepat mengeluarkan kebijakan untuk memperkuat sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ketentuan dalam Permendes PDTT No 7 tahun 2021 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2022 salah satu ketentuan penggunaan Dana Desa adalah untuk penguatan ketahanan pangan nabati dan hewani untuk mewujudkan Desa tanpa kelaparan. Pemerintah melalui Perpres No.104 tahun 2021 lebih menegaskan kembali penggunaan Dana Desa salah satunya untuk program ketahanan pangan dan hewani paling sedikit 20 % (dua puluh persen). Kebijakan tersebut dilanjutkan dengan turunnya PMK No.190/PMK.07/2021 tentang Pengelolaan Dana Desa, serta diatur lebih dalam melalui Kepmendes PDTT No.82 tahun 2022 tentang Pedoman Ketahanan Pangan di Desa. Bagaimana kemudian Desa menyikapi kebijakan tersebut dalam mengggunakan Dana Desa dan APBDes? Apa yang dilaksanakan di Desa Taro dalam merencanakan dan melaksanakan penguatan ketahanan pangan dan hewani bisa sebagai inspirasi dan model. 


Desa Taro berinisiatif bekerjasama dengan Desa Adat Pisang Kaja untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya terkait ketahanan pangan. Kerjasama yang dilakukan adalah pemanfaatan lahan milik desa adat seluas 2,264 hektar untuk dikelola oleh desa dinas melalui kegiatan yang didanai APBDesa tahun 2022. Anggaran untuk kegiatan Ketahanan Pangan sebesar Rp. 222.250.000,-, digunakan untuk pembukaan lahan dan penanaman tanaman produktif. Pengelolaan hasil kegiatan ini sepenuhnya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa Sarwada Amertha Desa Taro, dengan tetap melibatkan pihak Desa Adat dalam keberlanjutan pengelolaannya.

Desa Taro melakukan pemilihan lahan milik Desa Adat Pisang Kaja dengan memperhatikan kontur lahan, akses menuju lokasi, dan potensi masyarakatnya dalam keberlanjutan pengelolaan hasil pertanian yang telah dibiayai oleh desa.  Lahan seluas 2,265 hektar sebelumnya hanya dimanfaatkan untuk penanaman rumput gajah sebagai sumber makanan utama ternak sapi milik masyarakat. Setelah ada kerjasama terkait kegiatan ketahanan pangan ini potensi lahan dimaksimalkan agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal kepada Desa Taro dan khususnya masyarakat di sekitar lahan.

Kegiatan ketahanan pangan di Desa Taro telah dilakukan melalui tahapan perencanaan desa sesuai dengan prioritas penggunaan Dana Desa. Pola pelaksanaan kegiatan ketahanan pangan tetap menggunakan sistem Padat Karya Tunai Desa dan melibatkan masyarakat miskin, penganggur, setengah penganggur, dan keluarga dengan anak stunting di desa. Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat terdampak ditengah pandemi Covid-19 yang sedang terjadi. Keberlanjutan kegiatan ketahanan pangan dipastikan oleh Desa dengan adanya studi kelayakan dan analisa kegiatan berdasarkan kebutuhan masyarakat ditengah pandemi.

Keberlanjutan kegiatan ketahanan pangan dipastikan melalui pemilihan tanaman pada saat perencanaan desa. Tanaman yang dipilih bervariasi dari jenis tanaman tahunan seperti jeruk, alpokat, dan durian. Untuk menunjang sebelum tanaman tahunan menghasilkan, dilengkapi juga jenis tanaman tumpangsari seperti bunga, sayur, dan umbi umbian. Bunga dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara, sayuran sebagai pelengkap pangan di masyarakat dan umbi-umbian sebagai pelengkap kebutuhan karbohidrat masyarakat pengganti nasi. Selain ketahanan pangan nabati kegiatan ini juga dilengkapi oleh kebutuhan hewani. Salah satunya adalah pengadaan bibit sapi, ayam, kolam ikan dan lebah kele. Pemilihan sapi menurut keyakinan masyarakat dipelihara selain sebagai penghasil pupuk, juga sebagai “Pengijeng Karang” atau Penunggu Lahan Ketahanan Pangan. Ayam dipilih untuk menunjang pelengkap pupuk dasar dalam proses penyuburan tanah dan sebagai hasil pangan hewani utama yang akan dimanfaatkan oleh pelaku usaha cooking class yang ada di sekitar Desa Taro.

              Pelaksanaan kegiatan Ketahanan Pangan Desa Taro selalu melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan lembaga masyarakat desa. Desa Taro yang kita kenal dengan pengelolaan sampah berbasis sumber dengan TPS3R memeberikan kontribusi berupa pupuk organik dalam proses pemeliharaan kesuburan tanahnya. Pupuk organik yang dihasilkan memberikan manfaat besar untuk meningkatkan kesuburan tanah pada lahan ketahanan pangan.


    Sejak pertama kali kegiatan ketahanan pangan di Desa Taro dilaksanakan telah memberikan dampak yang sangat baik untuk keberlangsungan masyarakat dimasa pandemi Covid-19. Salah satu dampak yang telah dirasakan dari hasil panen pertama adalah pengelola mampu menjual hasil panen dengan total nilai bersih kurang lebih empat juta rupiah. Dana tersebut dimanfaatkan oleh pengelola untuk keberlanjutan di lokasi ketahanan pangan.  Kebutuhan pemeliharaan lahan ketahanan pangan dengan luas lahan 2,265 hektar diharapkan dapat berjalan tanpa bantuan dana dari Pemerintah Desa lagi, dengan adanya pemasukan dana dari hasil panen tersebut.

              Desa Taro dan Desa Adat Pisang Kaja terus berkomitmen untuk mengembangkan lokasi ketahanan pangan ini. Akses untuk menuju lokasi ketahan pangan merupakan akses wisata bersepeda bagi wisatawan domestik dan luar negeri. Hal ini tentu memberikan dampak lain bagi keberlanjutan kegiatan ketahanan pangan ini. Ketahanan pangan berbonus pariwisata adalah hasil dari pemilihan tempat yang merupakan akses wisata bersepeda,  diharapkan tempat ini menjadi persinggahan dikala wisatawan letih mengayuh sepedanya dan menikamati keindahan dari sekitar tempat Kegiatan Ketahanan Pangan dan Hewani ini. (Wirateja, 9-9-2022)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar